Sabtu, 24 Mei 2014

Manfaat dan Hikmah Membaca Al-Quran

Manfaat dan Hikmah Membaca Al-Quran

Manfaat dan Hikmah Membaca Al-Quran

Al-Quran adalah kitabullah yang berisi sejarah umat sebelum kamu, berita umat sesudahmu, kitab yang memutuskan urusan-urusan diantara kamu, yang nilainya bersifat pasti dan absolut. Siapa saja orang durhaka yang meninggalkannya, pasti Allah Swt. akan memusuhinya. Siapa yang mencari petunjuk selain Al-Quran, pasti akan tersesat. Al-Quran adalah tali Allah Swt. yang sangat kua, peringatan yang bijaksana, dan jalan yang sangat lurus” (HR Tirmizdi).

Al-Quran memiliki banyak urgensi. Ia tak hanya bernilai normatif-teologis, tetapi juga historis. Al-Quran tidak hanya menyentuh persoalan kitabiyah(firman yang berisi hukum-hukum syariat) tetapi juga kauniyah atau kosmologis. Ia tidak hanya berbicara tentang manusia yang berada di bumi, tetapi Allah Swt. tegaskan bahwa semua mahkluk ada dalam genggaman dan kekuasaan-Nya. Bagi mereka yang beriman dan beramal saleh disediakan surga dan kebahagiaan didunia. Tetapi yang menyangkal dan durhaka, akan mendapatkan hukuman yang bersifat metafisikal-eksatologis di akhirat.

Berbeda dengan bacaan yang ada dimuka bumi, membaca Al-Quran dinilai ibadah. Tak hanya benilai ibadah, tetapi bagi yang membaca Al-Quran keadaan mereka dilukiskan Nabi Saw., “Rumah yang didalamnya dibacakan Al-Quran akan terlihat penduduk langit sebagaimana penduduk bumi melihat gemerlap bintang-gemintang dilangit,” (HR Baihaqi). Sedangkan bagi yang malas membaca Al-Quran Nabi Saw. memperingatkan, “Sungguh, orang yang didalam hatinya tidak terdapat sesuatu pun dari Al-Quran, bagaikan rumah yang sepi (menyeramkan),” (HR Turmudzi).

Pesan Rasulullah Saw. di muka tulisan ini juga secara jelas menyatakan bahwa orang yang senantiasa membaca Al-Quran akan dapat mengambil pelajaran dari umat masa lalu. Kisah umat masa lalu yang membawa kebaikan, menyembah Allah Swt., dan terus-menerus mensyukuri nikmat-Nya menjadi pedoman. Mereka juga akan paham bahwa mengingkari nikmat Allah Swt. adalah kedurhakaan yang bisa meluluh-lantakkan peradaban. Hal ini pernah terjadi pada kaum ‘Ad, Tsamud, dan orang-orang Madyan yang semuanya dikisahkan Al-Quran.

Al-Quran menegaskan, “Kisahkan kisah-kisah itu agar merreka berfikir, “ (QS Al-A’raf[7]: 176). “Dan sungguh, dalam kisah-kisah mereka ada tamsil bagi mereka yang berpikiran mendalam,” (QS Yusuf [12]: 11). Dalam ayat lain Allah Swt. menegaskan bahwa Al-Quran adalah, “sebaik-baiknya kisah,” (QS Yusuf [12]:11) dan mengandung “kisah-kisah kebenaran,” (QS Ali Imran [3]:62).

Al-Quran turun pada bulan Ramadan, tepatnya malam Lailatul Qadar, atau pada suatu malam yang diberkahi. Allah Swt. berfirman, “Bulan Ramadan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang hak dengan yang batil,” (QS Al-Baqarah [2]: 185). “Sungguh, Kami menurunkan nya (Al-Quran) pada malam Lailatul Qadar,” (QS Al-Qadar [97]: 1). “Sungguh, Kami menurunkan nya (Al-Quran) pada suatu malam yang diberkahi,” (QS Qd-Dukhan [44]: 3).

Dalam konteks reformasi kekuasaan, Nabi Saw. menyatakan hal-hal pokok sesuai petunjuk Al-Quran. Peratama, Al-Quran menyatakan bahwa kekuasaan adalah amanah, “Sungguh, Allah Swt. memerintahkanmu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya dan memerintahkanmu apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah Swt. memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu...,” (QS An-Nisa’ [4]: 5).

Kedua, ketika keputusan yang menyangkut kepentingan orang banyak pada masa pra-Islam ada ditanga yang terkuat dan paling berkuasa, Nabi Saw. secara simpatik memperkenalkan asas musyawarah-mufakat kepada masyarakat Arab. Mereka merasa terlindungi, memiliki ha suara dan berbicara, dan serta-merta bersedia ingin mengikuti semua tuntunan Allah Swt. dan Rasul-Nya, yakni dengan menyatakan diri memeluk Islam. Inilah pesan Allah Swt. untuk hidup bermusyawarah, “...dan bermusyawaralah engkau ya Muhammad dengan mereka dalam urusan kemasyarakatan,” (QS Ali Imran[3]: 159).

Ketiga, aspek keadilan pada masa pra-Islam hanya sekadar istilah yang tidak pernah menemukan realitasnya. Al-Quran menyeru masyarakat Arab yang telah beriman, “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menjadi penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu-bapak dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya maupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar-balikkan kata-kata atau enggan menjadi saksi, maka sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan,” (QS An-Nisa’[4]: 135).

Keempat, tentang prinsip persamaan, “Wahai manusia sungguh, Kami menciptakanmu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikanmu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” (QS Al-Hujurat [49]: 13).

Kelima, prinsip mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Allah tegaskan, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam. Kami tebarkan mereka didarat dan dilaut, serta kami anugerahi mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna dari kebanyakan mahkkluk yang telah Kami ciptakan,” (QS Al-Isra’[17]: 70). Keenam prinsip perdamaian, “Berperanglah demi Allah melawan orang-orang yang memerangi kamu, tetapi janganlah kamu memulai permusuhan. Sungguh, Allah tidak suka orang-orang yang memulai permusuhan,” (QS Al-Baqarah [2]: 190).




Referensi : M.Abd.Syukur, M.Muslih Aziz, M.Syamsul Yakin (2007), 7 Sunnah Harian Nabi Saw. Menjadikan Hidup Lebih Bermakna dengan Amalan Sederhana, PT Mizan Publika, Jakarta Selatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label