Selasa, 27 Mei 2014

Manfaat dan Hikmah dari Shalat Duha Setiap Pagi Hari

Manfaat dan Hikmah dari Shalat Duha Setiap Pagi Hari


Manfaat dan Hikmah dari Shalat Duha Setiap Pagi Hari

Secara praktis shalat duha dan segala yang melngkupinya di sandarkan atas apa yang dilakukan Nabi Saw. Nabi melakukannya tidak hanya ketika dirumah, tetapi ketika dalam perjalanan. Nabi Saw. mencontohkan bilangan rakaat shalat duha seperti yang dilakukannya, yaitu dua hingga dua belas rakaat. Menurut belaiu, shalat duha bukan semata-mata meminta harta, tetapi, “Shalat duha adalah shalatnya orang-orang yang senantiasa kembali kepada Allah,” (HR Thabrani). Dan dalam hadis lain, “Kekasihku Muhammad Saw. telah berwasiat kepadaku tiga hal, yang sejak itu aku tidsk pernah meninggalkannya. Pertama, hendaklah aku tidak tidur sebelum mengerjakan shalat witir. Kedua, hendaknya aku tidak meninggalkan dua rakaat shalat duha, kaena shalat duha adalah shalatnya awwabin (orang-orang yang bertaubat kepada Allah serta meninggalkan maksiat). Ketiga, hendaklah aku berpuasa tiga hari dalam satu bulan,”  (HR Tirmidzi dan Nasa’i).
Nabi Saw. menegaskan kembali, “Siapa berdiri ketika matahari menampakkan diri lalu berwudhu dengan sempurna, kemudian melakukan shalat duha dua rakaat, maka diampunilah segala dosanya. Dia kembali bersih dari segala dosa seperti ketika dilahirkan ibunya,”  (HR Abu Ya’la).
Dampak positidf dari melaksanakan shalat duha diantaranya yaitu, Pertama, dengan shalat duha kita mampu membedakan antara pendusta dengan orang yang benar. Kita jangan sampai tertipu oleh penampilan atau kata-kata yang manis. Kalau selama ini kita masih tertipu dengan pendusta, mungkin salah astu penyebabnya kita masih suka berdusta. Oleh karena itu, sudah saatnya untuk kita tidak menilai seseorang hanya dari penampilannya saja, sehingga pendusata tidak kita katakan orang yang benar dan orang benar tidak kita anggap sebagai pendusta.
Kedua, dengan shalat duha kita mampu menggusur sikap inkonsistensi. Ketika kita membela pengkhianat sebagai seorang yang amanah untuk memperoleh keuntungan pribadi, sebenarnya kita tengah memutar balikkan dan menghancurkan kebenaran. Kita harus berani berpihak pada mereka yang amanah, kendati kita adalah orang yang akan menanggung kerugian. Kit tidak boleh memanfaatkan kebaikan atau keburukan oarang untuk meraih ambisi pribadi. Kita juga tidak boleh mempengaruhi orang agar sesuai dengan yang kita maksudkan. Apalagi menggiring mereka yang amanah menjadi para pendusta.
Ketiga, dengan shalat duha mari kita koreksi diri. Sungguh malu rasanya bila yang dimaksud sebagai ruwaibidhah (orang bodoh yang berbicara tentang urusan  umat,  (HR Ibnu Majah)) adalah kita sendiri. Betapa tidak, selama ini kita sudah terlalu sering berbicara di muka umum tentang urusan publik. Lalu mengkritik rakyat, menolak kebijakan pemerintah, dan menghakimi agama sebagai penghambat kebebasan berfikir. Bahkan kita sering berbicara lantang untuk mengobarkan semangat juang, padahal diri kita kerdil dan nyali kita kecil. Pengetahuan kita dangkal. Sedangkan yang kita utarakan hanya memperkeruh keadaan, membuat publik gusar, dan sama sekali tidak bermanfaat.                              


Referensi : M.Abd.Syukur, M.Muslih Aziz, M.Syamsul Yakin (2007), 7 Sunnah Harian Nabi Saw. Menjadikan Hidup Lebih Bermakna dengan Amalan Sederhana, PT Mizan Publika, Jakarta Selatan.                                                                                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label